In Random

The Minimalists

Jadi, beberapa hari yang lalu karena sudah kehabisan serial yang biasa di tonton, jadilah merandom mencari sesuatu yang bisa ditonton tapi yang tidak terlalu serius.
Lalu teringat, sempat baca di Twitter ada yang menilai kalau The Minimalists ini termasuk salah satu tontonan oke.
So basically, dokumenter ini menceritakan tentang orang-orang, yang menurut masyarakat, adalah orang yang termasuk dalam kategori sukses. But somehow they're not happy, they feel empty inside, then most of the time fill the emptiness by buying things, more and more and more.

Lalu orang-orang ini mempertanyakan ke diri sendiri sebenarnya sukses itu seperti apa?
Making more money?
Having more luxury things?
Own big house in a upscale residential area?
But then have having all those things, why it feels like there are something missing.

Lalu menurut dokumenter ini lagi, kebanyakan orang mengukur sukses itu memang dari materi, when they feel empty, they tend to buy things. But it won't takes time for them to feel it again, so they will buy more things.

*Lalu hening....
*Lalu melihat sekeliling yang tadinya semua barang pinjaman dari pemilik apartemen dan hari ini banyak printilan barang pribadi...
*Lalu flashback...

Waktu memutuskan beli bantal sebanyak ini memang karena suka aja... di kost-an dulu pun banyak bantal. Sebenarnya memang cuma butuh 2, 3 lah kalau ada tamu yang menginap. Hmm, sepertinya kalimat "kalau nanti butuh" ini yang selalu berujung akhirnya membeli barang-barang yang sebenarnya komplementari.

Kenapa harus punya televisi?
Kenapa harus punya sound dock?
Kenapa harus punya 2 handphone?
Sudah punya 2 handphone kenapa beli tab pula?

Kenapa kalau ke supermarket pasti beli makanan buat stok dan ujung-ujungnya ada saja yang kelupaan kalau sudah dibeli dan berakhir di tempat sampah karena keburu kadaluarsa?

Kenapa sering beli macam-macam kosmetik padahal tau kalau diri sendiri paling malas perawatan pakai krim ini pakai krim itu?

Kenapa selalu beli coklat dalam jumlah yang banyak padahal untuk konsumsi sendiri? dan masih punya coklat yang lain yang belum dihabiskan pula.

Kenapa merasa harus punya coat untuk 4 jenis musim dan masing-masing musim setidaknya harus punya 2 biar tidak kelihatan orang-orang kalau kita pakai coat-nya yang itu-itu lagi, itu-itu lagi? padahal sebenarnya 2 saja sudah cukup. Walaupun sebenarnya kemarin sempat berpikir pas winter sale berikutnya harus beli 1 coat lagi buat persiapan. *what the!?!?!?!?!?!?

Kenapa merasa harus punya banyak sepatu? harus punya boot untuk ke kantor, buat jalan-jalan di kota, buat kegiatan outdoor, buat ke acara semi formal, buat ke acara formal, dan itu baru satu jenis sepatu. Belum jenis lain, sneakers, 3 cm heels, 5 cm heels, flat shoes, sandals, running shoes. Belum lagi kalau mau mengkategorikan berdasarkan warna, biar matching dengan outfit.

Same thing goes for bags.
Same thing goes for clothes, but in a more complex categories.
Apa sebaiknya beli kindle buat bacaan elektronik daripada beli buku fisik? (But I love books!)
And I haven't mention for other printilan lain yang lagi terlihat di sekitar.
I do tend to buy barang-barang "lucu" yang judulnya buat menghias apartemen atau buat nanti kalau-kalau butuh.

Balik ke dokumenternya lagi...
Kenapa orang-orang jadi harus mempersulit diri buat mengambil pinjaman dari bank, buat beli rumah impian/apartemen dengan banyak ruangan. Padahal sebenarnya kalau seseorang lagi di rumah, persentase ruangan yang paling sering dijadikan tempat nongkrong adalah ruangan keluarga, kamar tidur, kamar mandi/toilet, dapur kalau rajin masak.
Dan beberapa dari mereka akhirnya melepaskan rumah/apartemen lalu beralih ke rumah yang lebih, lebih kecil... literally lebih kecil... lebih kecil dari 35 meter persegi ini.

Lalu melongo... kemarin aja agak-agak menyesal kenapa dapatnya 35 meter persegi... kan kalau nanti ada tamu langsung berasa jadi sempit (lagi-lagi kalimat "kalau nanti..."). Padahal dalam setahun ada berapa tamu sih yang datang... nah, iya sih. Trus tempat yang paling sering dijadikan tempat nongkrong sebenarnya cuma sofa di depan tivi... then why I thought that I need more spaces?

Terus dokumenter ini jadi agak-agak melipir ke masalah lingkungan... karena tingginya tingkat konsumsi manusia berdampak langsung dengan lingkungan.
Lalu teringat berita yang sempat terbaca mengenai semakin tingginya permukaan air laut di bumi, semakin menipisnya lapisan glasier di beberapa tempat di dunia, semakin panas bumi ini dalam beberapa tahun terakhir, semakin menipisnya sumber daya energi, semakin banyaknya limbah yang susah terurai...
Melirik ke kantongan plastik/kertas yang setiap belanja apapun pasti minta... lalu menyesal seharusnya tidak boleh lupa buat bawa kantong belanjaan sendiri setiap hari.

Akhirnya 2 hari terakhir ini, berujung dengan kegiatan beres-beres apartemen, merelakan beberapa barang untuk dibuang, merelakan beberapa pakaian untuk disumbangkan... tapi masih tidak rela buat melepaskan banyak barang dan sebagai pembenaran cuma bisa berpikir, barang-barang lain nanti saja direlakannya... setahun lagi.
Lalu berniat no more buying clothes, no more buying cosmetics to try, no more beli cemilan-cemilan, no more belanja yang tidak penting! (sebaiknya menunggu winter sale nanti #eh) and always put grocery bag in my bag, whether I plan to use it that day or not.

Less stuff... I try to...
*Trying to pursue myself that rather than buy those things, it will be better if we use it to buy flight tickets, because I read somewhere:

spend money on experience, not things
or
collect moments, not things
Oke ini termasuk pembelaan...

Kesimpulannya:
The Minimalists ini bukan tontonan yang tidak terlalu serius.

Picture use in this page is taken from www.theminimalists.com

Related Articles

0 comments:

Post a Comment